Senin, 08 Maret 2010

Alat bantu memancing: Depth Sounder, GPS dan Plontang

Seorang teman, Irwin Ismail, berkenan untuk membagikan ilmu memancingnya. Dibawah ini adalah tulisan singkat yang dibuat beliau. Bila anda tertarik untuk mendalaminya, silahkan hubungi kami di : amarylis.foundation@gmail.com atau melalui comment dibawah.
smoga berguna.



Alat bantu memancing: Depth Sounder, GPS dan Plontang

Lokasi ikan berkumpul
Setidaknya ada 2 kategori orang yang pergi kelaut untuk menangkap ikan: pemancing dan nelayan. Apa beda antara keduanya? Pemancing hanya akan menangkap ikan seadanya, sedangkan nelayan akan mencari ikan sebanyak-banyaknya untuk mereka jual.

Baik golongan pertama dan golongan kedua, tentunya memerlukan suatu lokasi, yang biasa di sebut dengan spot, dimana di spot tersebut banyak terdapat ikan. Ada beberapa macam spot untuk mencari ikan - yang merupakan tempat hunian atau ‘rumah’ bagi ikan - tapi untuk mudahnya kita akan batasi dalam 2 kategori utama: tandes dan karang.


Tandes
Apa yang di sebut dengan tandes? Tandes adalah struktur yang lebih keras di dasar laut, jika dibandingkan dengan pasir di sekitarnya. Bayangkan suatu areal yang di dominasi dengan pasir, dan di dekat tempat itu ada batu (karang) yg tertutup dengan pasir. Inilah yang kita kenal dengan tandes.

Besar tandes itu bisa saja hanya sebesar meja makan di rumah kita, atau sebesar lapangan bola. Tapi anggaplah rata2 besar tandes itu seukuran 10x10m. Untuk ukuran di darat, tentu ini adalah sebuah lokasi yg mudah untuk di temukan, tapi dilaut ceritanya bisa lain sama sekali.


Karang
Karang bisa terbentuk secara alami atau merupakan hasil perbuatan manusia. Karang yg terbentuk secara alami biasanya berada jauh dikedalaman laut. Disanalah, di sekitar karang itu, merupakan spot favorit ikan2 kecil untuk berlindung dan mencari makanan. Ikan2 kecil ini pada gilirannya akan mengundang ikan yang lebih besar yang akan memangsa ikan2 kecil itu. Ikan2 yg lebih besar akan mengundang ikan yang lebih besar lagi, dan seterusnya. Demikianlah kira2 rantai makanan di sekitaran karang. Jadi bisa di perkirakan, ikan2 predator seperti tenggiri atau alu2 akan mudah di jumpai di sekitaran karang itu.

Dilain pihak, ada juga karang yang bukan merupakan hasil kerja alami. Misalnya saja sebuah pulau kecil yg di ambil pasirnya secara terus menerus, sehingga pada satu saat nanti, pulau itu akan hilang dan berada di bawah permukaan air. Karang Nirwana di kepulauan Seribu adalah salah satu contohnya.

Cara mencari tandes
Baru beberapa tahun yang lalu saja, nelayan mencari tandes dengan cara yg amat alami. Dengan bantuan pemberat yg di ikatkan dengan kenur, mereka akan menurunkan pemberat itu sampai ke dasar laut. Pemberat ini akan di angkat dan di turunkan berulang-ulang, sampai mereka menemukan dasar laut yg lebih keras dari pasir sekitarnya. Cara ini di kenal dengan istilah 'ngelot'.

Bisa di bayangkan, berapa banyak tenaga dan waktu yang di butuhkan hanya untuk menemukan tandes ini!.

Dengan bantuan teknologi jaman sekarang, ada satu alat bantu ygn bisa menggantikan pekerjaan ngelot ini, yang namanya depth sounder atau sebagian orang menyebutnya dengan fish finder.
Berbekal depth sounder ini, kondisi dasar laut bisa kita lihat secara langsung di layar monitor. Apakah kedalaman laut itu rata atau turun naik bisa terlihat dengan jelas di monitor itu, berikut berapa kedalaman laut di spot itu.


Cara mencari karang
Kalau karang itu tadinya adalah pulau seperti di sebut diatas, akan lebih mudah mencarinya, karena beda kedalaman laut di sekitarnya yg memberi efek warna kedalaman laut yg juga berbeda. Dengan kata lain, karang semacam ini bisa dengan mudah terlihat dengan mata karena perbedaan warna laut.

Bagaimana dengan karang alami yang adanya di kedalaman laut sana?. Lagi2, dengan bantuan depth sounder akan amat membantu kita menemukan tonjolan atau lekukan karang di kedalaman sana.

Cara lain yg bisa kita pakai adalah dengan melihat peta khusus laut keluaran Garmin. Dengan berbekal peta ini saja, kita bisa melihat lokasi2 mana saja yg lebih tinggi dari lokasi sekitarnya dan berpotensi menjadi ‘rumah’ bagi ikan buruan kita.

Alat bantu
1. Depth sounder
Alat ini memancarkan gelombang suara, yang dalam hal ini kita arahkan ke dasar laut dan berdasarkan pantulan gelombang suara yang di terima kembali oleh alat itu lah yg di hitung, sehingga bisa kita ketahui berapa meter kedalaman laut di titik itu, apakah dasarnya lunak atau keras dan lainnya.

Mungkin ini adalah info yg menjadi dasar kebutuhan kita untuk mencari suatu spot ikan. Pada peralatan yang makin mahal, info2 nya juga makin beragam, Misalnya saja layar monitor yang sudah berwarna (bukannya abu2 lagi), adanya keterangan suhu/temperature dan lainnya.

Bentuk Echo Sounder ini beragam, tapi bentuk dasarnya kira2 seperti bisa di lihat di sini. Makin mahal alat itu, makin banyak tombol atau alat yang bisa kita atur. Tapi kalau hanya sekedar mencari karang dan tandes, maka alat ini sudah lebih dari cukup.

Hal lain yg perlu di perhatikan adalah merk berbeda akan mempunyai letak tombol yg berbeda pula, jadi kita harus mempelajari cara penggunaanya dari masing2 buku manualnya.

Ada 2 freqwensi yg biasa di gunakan oleh Depth Sounder ini. Yang satu adalah 50kHz, dan satunya lagi 200kHz. Kalau kita set sounder di 50kHz, maka akan semakin besar area yg di cakup di dasar laut, tapi detailnya kurang tampak. Jadi, untuk mencari lokasi karang atau tandes, kita gunakan yang 200kHz.

Hal lain yg juga mempengaruhi ketajaman detail yang mampu kita lihat, adalah besaran Watt nya. Semakin besar Wattnya, semakin jelas detail yg di hasilkan, dan semakin mahal harganya.
Sekarang, gambar seperti apakah yang kita cari?

Perhatikan gambar di samping ini. Ini adalah gambar struktur dasar laut yg di lewati oleh kapal yg kita naiki. Membacanya mulai dari bagian kiri monitor.

Pada awalnya, dasar laut berwarna merah, dan menjadi semakin merah padat.. turun ‘kelembah’.. naik ke gundukan kecil, dan baru berubah menjadi merah biasa lagi setelah gundukan tersebut.

Warna merah padat itulah yang kita cari!. Itulah yg di sebut dengan tandes. Perhatikan pula, di atas tandes ada beberapa gambar mirip bulan sabit, yang sebenarnya merupakan ikan yang kita cari. Makin besar gambarnya, makin besar pula ikannya. Biasanya, ikan2 ini bersifat relatif menetap di tandes tersebut kecuali ada sesuatu yg meng ganggunya atau menghalaunya untuk pindah.

Sekarang lihat pula gambar di sebelah ini. Perhatikan gambar yang di tunjuk dengan huruf L. Kemungkinan besar itu adalah gerombolan ikan kecil, kalau bukan merupakan sampah (plastik atau lainnya) yg terbawa arus.

Hal yg musti di ingat disini adalah gerombolan ikan itu selalu bergerak, alias tidak berdiam di tempat seperti ikan2 di tandes yang dijelaskan diatas.


Nah, dengan memperhatikan gambar di sebelah ini, jelas terlihat adanya ‘gundukan’ berwarna merah yang amat berbeda dengan dasar laut yg berwarna coklat.

Perhatikan juga, betapa banyak ikan yang berkeliaran di sekitaran tandes (atau karang) ini. Inilah yang kita cari, dan merupakan spot amat potensial untuk memancing ikan.


2. Global Positioning System, yang biasa di singkat dengan GPS

Bayangkan anda sedang duduk2 di taman, berdampingan dengan orang lain. Posisi anda duduk dan posisi orang itu duduk adalah unik di dunia ini. Dengan GPS, kita bisa menandakan lokasi yang di wakili oleh sederetan angka yang dikenal dengan nama ‘koordinat’. Tidak ada tempat yang memiliki titik koordinat yang sama di permukaan bumi ini. Masing2 adalah unik, se unik cap jempol kita masing2.

Nah, apa guna GPS itu disini?.

Sekarang bayangkan begini: hari ini anda sedang beruntung menemukan tandes atau karang. Hasil anda memancing hari ini amat memuaskan baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Sebulan kemudian, anda ingin mancing kembali di spot ini. Bagaimana cara anda menemukan kembali spot ini di lautan yang luas itu?.

Nah, GPS akan membuat hidup kita lebih mudah, karena GPS bisa menandai (dan menyimpan, tentunya) koordinat ini hanya dengan menekan beberapa tombol saja.

Jadi GPS disini berfungsi sebagai penanda lokasi atau spot mancing yang kita temukan.
Pertanyaan yang sering muncul adalah ‘berapa uang langganan bulanannya?’.

Jawabnya hanya satu: GRATIS. Anda hanya membayar alatnya saja saat membeli, sedangkan info yang di berikan oleh GPS ini semuanya gratis.

Banyak bentuk dan model di buat oleh pabrikan GPS di dunia ini, dan gambar yg terpasang di sebelah adalah Garmin GPSmap 76CSx. Tipe ini adalah tipe GPS handheld yang bisa dibawa kemana saja, tapi karena kemampuannya mengambang di air, rasanya ini adalah GPS handheld yang paling cocok buat orang yg banyak bermain-main di air, baik danau maupun laut.

Jadi, spot yang anda temukan sekarang bisa dengan mudah anda temukan kembali di masa depan, dengan menandai lokasi spot itu di GPS.


3. Plontang

Apa sih yg di sebut plontang ? Pada dasarnya plontang itu adalah pelampung. Fungsinya hanya sebagai penanda ‘dimanakah lokasi persisnya spot yg kita temukan tadi?’

Plontang bisa kita bikin sendiri, misalnya saja dengan jeriken air ukuran 10 liter. Plontang ini (disebut ‘induk’ plontang) di ikat dengan tali. Ujung yang satu di ikatkan ke pemberat yang akan turun ke dasar laut, dan ujung satunya lagi di ikat dengan ‘anak plontang’. Ujung yang di hubungkan dengan pemberat di buat sedemikian rupa sehingga tali bisa di atur panjang pendek nya sesuai dengan kedalaman laut di spot tersebut. Sedangkan yang di hubungkan dengan anak plontang cukup 2-3 meter saja.

Ada bagusnya induk dan anak plontang di cat dengan warna yang mencolok sehingga mudah di lihat dari jauh, Misalnya saja induk plontang dengan warna merah dan anak plontang dengan warna kuning. Kalau mau lebih bagus lagi, di masing2 plontang di berikan bendera, sehingga amat mudah terlihat dari kejauhan.



Menyatukan ketiga alat bantu tersebut.
Setelah kita mengerti peralatan dan fungsinya masing2, bagaimana penerapannya di lapangan?
  • Pada saat kita ingin kembali ke tempat kita memancing yang lalu, kita gunakan GPS untuk memandu kita menuju spot tersebut.
  • Begitu kita sampai ke spot, tidak perlu tepat benar posisi nya – asal radiusnya sekitaran 10m saja, plontang kita lemparkan kelaut. Tentu saja, panjang tali ke dasar laut di sesuaikan dengan kedalaman laut disana. Jangan sampai kedalaman laut 35m, tapi talinya hanya 30m!.
  • Dari mana kedalaman laut bisa di ketahui? Dari depth sounder!. Perhatikan kembali gambar Depth Sounder yg terakhir diatas. Angka 27.9 di pojok kiri atas adalah kedalaman laut di titik itu. Harap hati2, karena satuan di Sounder bisa di set menjadi Meter atau Feet!.
  • Ok, tunggu sampai induk plontang dan anak plontang sudah ‘stabil’. Maksudnya, induk dan anak plontang sudah tidak bergerak lagi posisinya karena arus, dan itu juga berarti pemberat tidak larat atau bergeser. Sekarang jalankan kapal di sekitar plontang untuk mengetahui dimana persisnya ‘tohor’ dari karang atau tandes tersebut jikadi bandingkan dengan posisi plontang. Ini adalah hal yang penting sekali untuk di perhatikan jika spot tersebut berbentuk tandes, karena ikan dasaran (terutama ikan kakap) bersifat amat ‘manja’. Umpan harus jatuh persis di depan mereka, kalau tidak mau acara mancing gagal. Jika spot ini berbentuk karang, hal ini tidak begitu bermasalah, karena ikan2 predator (seperti tenggiri) tidak ‘diam’ saja di depan karang, tapi selalu ‘berpatroli’ di seputaran karang tersebut.
  • Ok, sekarang perhatikan posisi plontang dan tohor. Anggaplah posisi tohor sebenarnya ada di depan plontang, dengan jarak 5 meter.
  • Majukan kapal lurus kedepan (kedepan = tarik garis khayal dari anak plontang ke induk plontang). Dengan kata lain, kapal akan bergerak melawan arus.
  • Setelah jarak yang cukup, sebutlah 150 meter – tergantung berapa kuat nya arus saat itu, baru jangkar di turunkan.
  • Jika spot ini berbentuk tandes: ulur tali jangkar perlahan-lahan, sampai di perkirakan umpan akan jatuh persis didepan tohor.
Jika anda perhatikan, langkah 1-2 memerlukan GPS, langkah 2 memerlukan plontang, dan langkah 3-4 memerlukan depth sounder. Sedangkan langkah 5-8 memerlukan latihan yang cukup, sampai anda bisa mendapatkan ‘greget’ atau ‘feel’ yang pas.

Semoga tulisan kecil ini bisa memberikan pengetahuan tambahan bagi anda yang memerlukannya.

ii, mart 2010.

3 komentar :

  1. apakah alat bantu memancing ini dpt di gunakan oleh nelayan tradisional..? brp harga alat tersebut...? trim's.
    salam hormat,
    ferry.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mohon maaf baru menjawab, karena baru masuk lagi ke blog ini ..
      Jawaban nya ya jelas bisa membantu oleh siapapun yg ingin mencari ikan, baik seorang pemancing, atau nelayan.

      Kisaran harga amat beragam, tapi untuk gps tipe tersebut diatas (tipe ini sudah diskontinu) berada di sekitaran 3-3.5 juta. Untuk sounder, barusan saya cek ke amazon.com, dan rentang harganya mulai dari 800rb sampai puluhan juta rupiah dari berbagai merk. Untuk plontang, relatif murah, karna bikin sendiri bermodalkan jerigen bekas, di cat yg mencolok, dan di ikat dengan tali sekian puluh meter, di sesuaikan dengan kebutuhan mancing di daerah tertentu. Moga2 bisa menjawab, walaupun amat-amat-sangat terlambat. sekali lagi mohon maaf.

      salam,
      ii.

      Hapus
  2. thanks info.a gan, sangat membantu..

    BalasHapus

 
UA-43081584-1